Nasional

KKP Siapkan Rp300 miliar Dukung Perikanan Natuna

Views Agustus 21, 2015

Bisnis.com, BATAM—Kementerian Kelautan dan Perikanan menyiapkan dana hingga Rp300 miliar untuk mendukung Kabupaten Natuna di Provinsi Kepulauan Riau sebagai sentra perikanan terpadu.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan dirinya ingin wilayah Indonesia menjadi pusat perikanan, tidak hanya menjadi tempat mencari dan menangkap ikan.

"Saya ingin Natuna menjadi pusatnya, nanti bukan kapal asing lagi yang meminta izin menangkap ikan atau bahkan mencuri ikan, ini peluang bagi nelayan nasional," katanya belum lama ini.

Untuk merealisasikan rencana ini, KKP rencananya akan mengucurkan anggaran senilai Rp200 miliar hingga Rp300 miliar di Natuna.

Anggaran ini akan dipergunakan untuk membangun pelabuhan perikanan, fasilitas ruang pendingin (cold storage) untuk menyimpan hasil tangkapan dan fasilitas pendukung industri pengolahan hasil perikanan tangkap.

Sumber Berita dan Gambar:
http://sumatra.bisnis.com/m/read/20150209/13/54910/kkp-siapkan-rp300-miliar-dukung-perikanan-natuna

Pendidikan dan Budaya Sama-sama Penting

Views Agustus 20, 2015
TRIBUNNEWSBATAM.COM, KARIMUN - Pendidikan merupakan produk budaya, dan sebaliknya budaya juga merupakan produk pendidikan.
Setidaknya inilah yang diungkapkan Ketua Lembaga Adat Melayu(LAM) Karimun, Abu Samah saat menggelar pertemuan yang digagas Rektor Universitas Karimun, Elvis Adril, belum lama ini.
"Pendidikan merupakan produk budaya dan sebaliknya budaya juga merupakan produk pendidikan. Sudah seharusnya ke depan, dua lembaga ini dapat saling bersinergi untuk memajukan pembangunan pendidikan di daerah ini," kata Abu Samah.
Pertemuan yang berlangsung lebih kurang dua jam itu berlangsung santai di sebuah rumah makan di Tanjung Balai Karimun.
Kendati berlangsung santai, namun perbincangan yang terungkap terbilang sarat dengan hal krusial yang membahas nasib anak bangsa, khususnya dalam hal peningkatan mutu generasi muda di Karimun.
Selain Abu Samah dan Elvis Adril, dalam pertemuan itu juga hadir sejumlah pengurus LAM lainnya, seperti H Ahmad Jambi, Nur Rais, Amirullah, Sanusi dan beberapa pengurus lainnya.
Pengurus LAM menyambut baik niat Rektor UK yang datang bersilaturahim serta sekaligus memberikan informasi baru atau pencerahan tentang pendidikan kepada para pengurus LAM Karimun.
Tujuan Elvis menyambangi pengurus LAM Karimun untuk mempererat jalinan silaturahmi yang selama ini sudah direncanakannya.
Elvis juga menegaskan, tugas utama yang diembannya saat ini adalah mengembangkan pendidikan agar anak bangsa khususnya mahasiswa UK berkualitas.
"Tentunya semua diawali dengan manajemen yang transparan. Untuk itu kami perlu mendapat dukungan dari semua elemen masyarakat karimun, terutama dari LAM Karimun. Pendidikan dan budaya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya," katanya.(*)

Sumber Berita :
http://batam.tribunnews.com/2015/08/18/pendidikan-dan-budaya-sama-sama-penting?page=2

Batam Tetap Ingin Batuampar Jadi Penghubung Ekspor-Impor

Views Agustus 20, 2015

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengusaha Batam berambisi menjadikan Pelabuhan Batuampar sebagai penghubung (hub) utama internasional ekspor-impor Indonesia di Selat Malaka. Pelabuhan ini berkapasitas 600 ribu TEUs dan telah didukung megaproyek Pelabuhan Tanjungsauh senilai Rp 7 triliun.

"Kami sudah meminta Kementerian Koordinator Maritim mendukung pelabuhan di Batam itu sebagai hub di salah satu selat tersibuk di dunia yang dilintasi empat rute perdagangan internasional," kata Direktur Promosi dan Humas Badan Pengusaha Batam Purnomo Andiantono di Batam, Senin, 15 Juni 2015.

Badan Pengusaha Batam membutuhkan dukungan sejumlah pihak khususnya dari pemerintah pusat. "Selain letaknya yang paling dekat dengan Selat Malaka, kami yakin infrastruktur pelabuhan seperti Batuampar yang terus ditingkatkan akan siap menjadi penghubung utama. Megaproyek Pelabuhan Transhipment Tanjungsauh juga ideal menjadi hub mengingat kapasitas kargo bisa mencapai 8 juta TEUs per tahun dan bisa melayani kapal ukuran besar," kata dia.

Sejak 2012 Badan Perusahaan Batam memperluas Pelabuhan Batuampar dengan anggaran Rp 366 miliar untuk membangun dermaga utara sekaligus menambah kapasitas peti kemas menjadi sekitar 600 ribu TEUs dari hanya 200 ribu TEUs. Di samping Batuampar, sejak 2011 Badan Pengusaha Batam juga mencanangkan megaproyek pelabuhan alih jasa berkapasitas 8 juta TEUs di Tanjungsauh.

Proyek senilai Rp 7 triliun itu sampai saat ini belum jelas kelanjutannya karena masih menunggu lampu hijau pemberian status FTZ pada Pulau Tanjungsauh yang menjadi lokasi pelabuhan.
"Dengan kesiapan infrastruktur itu Batam dinilai lebih siap menjadi hub yang mengangkut barang dari dan ke Indonesia ke pelabuhan di negara-negara lain," kata Purnomo.

Badan Pengusaha Batam mencatat selama ini di Selat Malaka pergerakan barang ekspor impor dikuasai Port of Singapore Authority (PSA) dengan 60 juta TEUs per tahun dan Port Klang Tanjung Pelepas Malaysia sekitar 8 Juta TEUs. Sementara  itu Batam hanya menikmati 200 ribu TEUs per tahun.

Selat Malaka saat ini melayani 40 persen pergerakan perdagangan dunia. Sebanyak empat rute perdagangan melintasi Batam yakni trans Asia, Eropa, Amerika dan Australia.

Sumber Berita dan Gambar :
http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/06/16/090675507/batam-tetap-ingin-batuampar-jadi-penghubung-ekspor-impor

Usaha Kecil Menengah di Karimun Masih Menjanjikan

Views Agustus 19, 2015

KARIMUN (HK) - Membuka  usaha kecil menengah (UKM)  di Tanjung Balai Karimun masih sangat menjanjikan.  Selain lokasi yang sangat strategis untuk memasarkan berbagai produk yang dihasilkan, sejauh ini pemerintah setempat juga memfasilitasi berbagai fasilitas guna memberikan keringanan bagi masyarakat yang ingin membuka usaha sendiri.
Imran,  Kasi Kelembagaan Koperasi dan UKM Kabupaten Karimun mengaku, ditahun 2013 ini memang peluang untuk masyarakat kecil yang ingin membuka usaha dan memulai usaha berupa UKM sangat menjanjikan, sebab pemerintah telah menyediakan sarana dan prasarana guna untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

"Sejauh ini memang sangat berpeluang untuk membuka usaha seperti UKM, jadi kami harap bagi masyarakat yang ingin membuka usaha dan memulai usaha UKM, sangat berpeluang sekali, karena sejauh ini pemerintah Kabupaten Karimun telah memberikan fasilitas sarana dan prasarana untuk masyarakat kecil seperti di coastal area, masih banyak stand yang kosong, apalagi tidak lama lagi proyek pembangunan wisata di sana sudah mulai di buka," tutur Imran.

Imaran juga mengaku sejauh ini sudah 713 UKM yang terdaftar di tahun 2013, namun angka ini masih sedikit dibanding dengan Kabupaten  yang berkembang pesat, apalagi aset dan penghasilan bumi karimun juga sangat menjanjikan, seperti hasil laut dan taninya, yang sudah mulai dilirik masyarakat luas. Aku Imran usaha ini sangat cocok dikembangkan guna membantu prekonomian masyarakat dan hasil bumi karimun bisa diolah menjadi beragam kuliner, cendra mata, kerajinan khas karimun dan cemilan seperti kerupuk khas Karimun.

"Untuk tahun 2013 ini memang sangat meningkat berkisar 10% peningkatan dari tahun 2012 kemarin, dan peningkatan UKM ini sudah sangat tinggi, berarti respon masyarakat sangat luar baisa. Saya rasa masyarakat masih berpeluang banyak untuk mengolah dan memperkenalkan produk-produk unggulan dari Kabupaten Karimun sendiri, mulai dari cemil-cemilan, dan aksesories rumah khas dari karimun dan tentunya kuliner hasil laut," tutur Imran.

Imran juga mengaku, selama ini pihaknya telah memberikan fasilitas yang menjanjikan bagi yang ikut bergabung bersama mereka dalam dunia usaha UKM di Karimun, mulai dari perndistrbusian, pelatihan dan menyediakan fasilitas. Agar masyarakat lebih sadar, jika usaha mendiri itu lebih menjanjikan ketimbang usaha besar, namun ikut dengan orang lain.(abk)

Sumber Berita:
http://www.haluankepri.com/ekonomi-bisnis/bisnis/55439-usaha-kecil-menengah-di-karimun-masih-menjanjikan.html
Sumber Gambr: http://cimg.antaranews.com/kepri/2011/04/ori/rd-gerai-makanan-khas-karimun-e-s.jpg

Produk UKM Batam dipromosikan ke Malaysia

Views Agustus 18, 2015

Batam Centre, BatamEkbiz.Com – Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Batam akan mempromosikan Batam melalui pameran produk usaha kecil dan menengah (UKM) di Malaysia. Dalam mempromosikan produk UKM, Disparbud bekerjasama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor Bahru.

Dalam hal ini, KJRI akan memfasilitasi pelaku usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) asal Batam ikut dalam pameran dan menggelar galeri produknya di Johor dalam beberapa waktu ke depan. Promosi usaha ini bertujuan untuk mengenalkan potensi dan hasil usaha UMKM Batam di wilayah semenanjung Malaysia.

“Kami prioritaskan Batam, karena selain dekat kami juga sudah beberapa kali melakukan penjajakan,” Konsul dari KJRI Johor Bahru, Iwa Mulyana.

Melalui pameran itu, pelaku UMKM baik binaan pemerintah daerah maupun swasta dapat ikut bergabung. Nantinya, mereka akan mendapat stan pameran di Mall Kota Raya, salah satu pusat belanja besar di Johor Bahru.

Menurut Iwa, Beberapa hasil UMKM yang punya potensi untuk ditawarkan dan diperkirakan mendapat respon positif dari konsumen Johor Bahru antara lain pakaian muslim dan kuliner.

Iwa tak menampik jika produk Malaysia, terutama dari sisi pengemasan dinilai lebih menarik. Meski demikian, ia yakin produk UMKM Batam tetap dapat diterima di negeri jiran itu.

“Kami bekerjasama, sekaligus bersaing dengan produk dari sana,” ujarnya.

Kadisparbud Batam, Yusfa Hendri mengatakan, menyambut baik gagasan dari KJRI Johor Bahru itu. Peluang dari pameran itu juga diharapkan tak hanya sekedar mengenalkan produk Batam ke Malaysia. Lebih dari itu, ia berharap terjalin kerjasama dalam skala yang lebih besar.

“Jadi promosi ini bukan hanya sehari atau dua hari. Tapi terus menerus dan dari produknya bisa terjalin kontrak bisni,” kata Yusfa.

Namun Disparbud belum menyebut berapa banyak pelaku UMKM yang akan berangkat ke Johor Bahru untuk mengikuti pameran. Dengan makin dikenalnya produk Batam dan lalu lintas kerjasama yang makin intens, diharapkan terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dari Johor ke Batam.

Sejauh ini, pihaknya mencatat negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia jadi penyumbang jumlah wisatawan asing terbanyak yang masuk ke Batam.”Negeri-negeri di Semenanjung (Melayu) itu masih sangat mungkin untuk kita kembangkan (untuk menarik wisatawan asing),” katanya. (R05)

Sumber Berita:
http://batamekbiz.com/produk-ukm-batam-dipromosikan-ke-malaysia/
Sumber Gambar:
3.bp.blogspot.com/-hfbyPQeUVBg/U6o3rMvniDI/AAAAAAAAARw/-9kDEjUBqdk/s1600/produk%252BUKM%252BBatam.jpg

Tonggak Baru Industri Kopi Indonesia Dimulai

Views Agustus 17, 2015

LIPUTAN-AGRIBISNIS.COM – Mondelēz International meluncurkan program Coffee Made Happy di Jakarta,  sekaligus membuka Pusat Pelatihan Petani di Semendo, Lampung. Langkah ini merupakan wujud tekad perusahaan itu untuk memberdayakan petani kopi di seluruh dunia.

“Mondelēz International adalah salah satu perusahaan pembeli biji kopi Indonesia terbesar dan Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi fokus dari program Coffee Made Happy,” ujar Geraldine O’Grady, Global Coffee Sustainability Manager Mondelēz International.

Sebagai perusahaan kopi terbesar kedua di dunia, menurut Geraldine O’Grady, Mondelēz Internationali berkomitmen menginvestasikan minimum US$200 juta untuk memberdayakan satu juta petani kopi di beberapa negara penghasil kopi hingga tahun 2020.

“Coffee Made Happy adalah sebuah inisiatif global yang diciptakan untuk membantu generasi petani selanjutnya,” papar Geraldine.

Tingkatkan Produktivitas Kopi Petani Kecil

Bantuan itu, tambahnya, berupa langkah untuk menginspirasi, melatih, dan membangun kapasitas petani untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan mengajak generasi muda terlibat di sektor pertanian mikro. 

“Melalui program ini, kami ingin membantu menemukan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh para petani demi terciptanya pasokan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Jadi,  lanjut Geraldine, program ini akan meningkatkan produktivitas dan kelangsungan hidup petani kopi berskala kecil, memperkuat praktik-praktik pertanian dan membangun komunitas kopi yang lebih berkelanjutan.

Mondelēz International sendiri memang telah berkolaborasi dengan berbagai mitra  seperti Rainforest Alliance, Institusi Penelitian Kopi dan KakaoIndonesia (ICCRI), 4C Association, dan IDH –Inisiatif Perdagangan Berkelanjutan– untuk menjalankan program berkelanjutan ini.

Tonggak Industri Kopi Indonesia

“Dengan memberi dukungan kepada para petani kopi Indonesia. Dari teknik pengolahan lahan dan pengendalian kualitas, hingga pengembangan dan implementasi rencana bisnis yang efektif, Mondelēz International berharap dapat berkontribusi terhadap transformasi industri kopi Indonesia,” urai Geraldine..

Jadi, tegasnya, Coffee Made Happy ini menandai sebuah tonggak baru bagi industri kopi Indonesia.

Pusat Pelatihan Petani di Semendo, Lampung, sendiri merupakanhasil kolaborasi antara Mondelēz International dan organisasi swasta di Indonesia. Pusat Pelatihan ini akan memberi pelatihan langsung kepada 3.000 petani berskalakecil.

Para petani tersebut akan mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan peralatan dan perlengkapan, pencatatan transaksi bisnis, dan pengaturan anggaran belanja,sertakemampuan untuk membuat rencana bisnis.

Sumber Berita:
http://www.liputan-agribisnis.com/berita-pilihan/tongggak-baru-industri-kopi-indonesia-dimulai
Sumber Gambar :  www.mondelezinternational.com.au/~/media/InnovationHub/en/Images/Media%252520Centre/Video%252520Library/COFFEE-MADE-HAPPY-Introduction.jpg

Hadapi MEA, Rantai Produksi Ikan Hias Harus Diperkuat

Views Agustus 16, 2015

LIPUTAN-AGRIBISNIS.COM – Meski memiliki potensi besar, namun Indonesia masih tertinggal dalam kemampuan mengekspor ikan hias dibanding Malaysia dan Singapura.

Tentu hal ini akan menjadi tantangan besar saat negeri ini memasuki era pasar bebas ASEAN (MEA) di akhir 2015.

Karena itu, ditegaskan oleh Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk menghadapi persaingan tersebut maka infrastruktur pengembangan produksi ikan hias harus terus ditingkatkan.  Hal ini terutama terkait distribusi, transportasi dan juga logistik.

“Untuk dapat berbicara di era pasar bebas ASEAN, kita harus melakukan sinergi seluruh kekuatan dan stakeholder yang terkait dengan ikan hias sehingga mampu memperkuat mata rantai produksi ikan hias dari hulu sampai hilir. Dengan begitu kita akan mampu bersaing dengan negara lain,” papar Slamet.

Hal ini disampaikan Slamet saat mendampingi Menteri Kelautan dan Perikanan melakukan kunjungan kerja di Sentra Ikan Hias Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa, 30 September 2014 lalu.

Perkembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Tulungagung saat ini dikelompokkan pada dua usaha, yaitu budidaya ikan hias dan konsumsi.

Ikan hias dikhususkan pada ikan mas koki (kaliko, tosa, rasket, mutiara, lion head (kepala singa), mata kantong (mata bola), mas lowo, tekim, spenser, rensil dan 40 jenis ikan hias lainnya.

Sedangkan ikan konsumsi yang berorientasi pasar adalah ikan lele, gurami, patin, tombro, nila hitam, dan tawes.

Ikan mas koki merupakan primadona ikan hias dari kabupaten ini. Pemasaran ikan mas koki dari pembudidaya Tulungagung meliputi hampir 90% wilayah Indonesia, termasuk untuk ekspor.

Pemasaran ikan hias dan konsumsi dari Kabupaten Tulungagung mencakup Jakarta, Denpasar, Bandung, Yogyakarta, Tegal, Semarang, Surabaya, Purwokerto, sebagian Sumatra, dan Sulawesi. Sedangkan untuk ekspor ikan hias telah menjalin hubungan dengan eksportir dari Bali, Surabaya dan Jakarta.

Sumber Berita : http://www.liputan-agribisnis.com/berita-pilihan/hadapi-mea-rantai-produksi-ikan-hias-harus-diperkuat
Sumber Gambar : 
4.bp.blogspot.com/-0YjVvlRBOYQ/U8lE_ORPl2I/AAAAAAAABDo/sl7ebEHh2Wk/s1600/budidaya%252Bikan%252Bhias.jpg

Sebagai Pengekspor Ikan Hias Dunia, Indonesia di Posisi Tiga

Views Agustus 16, 2015

LIPUTAN A – Indonesia saat ini menduduki posisi ketiga dunia sebagai negara pengekspor ikan hias. Sedangkan posisi pertama dan kedua dunia masih dipegang oleh Spanyol dan Jepang.

Nilai ekspor ikan hias Indonesia ke pasar dunia tersebut pada saat ini mencapai Rp1,7 triliun.

“Nilai ekspor ikan hias sebesarRp1,7 triliun itu didominasi oleh ikan hias air tawar,” ujar Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat membuka kongres Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI) di Depok, beberapa waktu lalu.

Menurut Slamet, potensi ikan hias air laut perlu lebih di gali secara optimal untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor ikan hias Indonesia.

Berdasarkan data statistik perikanan budidaya, volume produksi ikan hias selama periode 2010 – 2013 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 18,9% per tahun, yaitu 605 juta ekor pada tahun 2010 dan mencapai 1,137 miliar pada tahun 2013.

Bersaing Ketat di ASEAN

Namun, potensi yang ada harus terus ditingkatkan. Sebab, di kawasan ASEAN sendiri, ekspor ikan hias Indonesia masih harus bersaing dengan Malaysia dan Singapura.

“Infrastruktur pengembangan produksi ikan hias harus terus ditingkatkan. Khususnya yang terkait dengan distribusi, transportasi dan juga logistik,” tutur Slamet.

Untuk dapat berbicara di era Pasar Bebas ASEAN, lanjut Slamet, kita harus melakukan sinergi seluruh kekuatan stakeholder yang terkait dengan ikan hias, sehingga mampu memperkuat mata rantai produksi ikan hias dari hulu sampai hilir.

“Dengan begitu, kita akan mampu bersaing dengan negara lain, bahkan mampu menguasai pasar ikan hias secara global,” papar Slamet.

Sumber Berita:
www.liputan-agribisnis.com/berita-pilihan/sebagai-pengekspor-ikan-hias-dunia-indonesia-di-posisi-tiga
Sumber Gambar : 
cdn-2.tstatic.net/manado/foto/bank/images/ikan-hias-air-tawar.jpg

Follow us